BaekLu With Kim Sisters [Chapter 3]

covercollab2

BaekLu with Kim Sisters Chapter 3

A Collaboration Fanfiction Written by :

HyeKim feat Kim Nara

 Starring With :

[EXO & (ex.) EXO] Byun Baekhyun & Luhan || [OC] Kim Nara & Kim Hyerim

Genre : Romance, School Life, Comedy, Fluff || Lenght : Chapter || Rating : PG-15

Summary : Mengisahkan kedua orang saudara yang harus terjebak oleh dua lelaki popular di sekolah. Bagaimana nasib kedua saudara tersebut?

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. We just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Sepanjang koridor yang ada, suara ponsel Nara yang mengaung-ngaung terus terdengar namun tak juga Si Pemilik ponsel menarik benda mati itu dan meladeni orang yang menghubunginya. Jujur, hal tersebut membuat Hyerim yang berjalan di sebelahnya menjadi risih bukan main. Gadis yang berstatus kakak dari Kim Nara itu melirik adiknya dari ujung mata lalu tersenyum mencibir karena terlihat Nara menekuk habis wajahnya pertanda ia kesal bukan main.

“Hey, Kim Nara. Aku tahu dirimu kesal pada Byun Baekhyun yang wajahnya imut bukan main itu, tapi apa tidak keterlaluan kamu marah padanya selama tiga hari? Sungguh kekanak-kanakan sekali,” ujar Hyerim kelewat sangat gemas akan tingkah adiknya.

Ujaran Hyerim membuat Nara menoleh dan menyarangkan tatapan menusuk. “Unni! Kau seperti tidak tahu aku saja. Baekhyun itu menyebalkan sekali menghina masakanku! Ingin kubunuh saja dia rasanya.” ucap Nara menggebu-gebu dengan bola mata berkilat marah.

Tampak Hyerim menghela napas di sebelahnya sambil memejamkan mata sejenak. Well, Hyerim sudah tahu watak asli Nara yang sangat tidak suka hasil memasaknya dikritik pedas begitu walau yah aslinya masakannya itu sudah berupa makanan kucing, akan tetapi Hyerim sudah terbiasa dengan masakan mengerikan itu setiap harinya.

“Kamu tidak perlu repot-repot membunuhnya,” kembali Hyerim berujar diiringi kepala tertoleh ke depan kembali. Dalam hati Hyerim menambahkan, “Karena dengan makananmu saat itu, Baekhyun sudah mati mendadak.” yang untung tidak dapat Nara dengar.

Namun Nara tetap bersikukuh mengibarkan bendera perang pada Baekhyun, itu terlihat jelas dari parasnya yang penuh amarah dan kilatan matanya itu. Hyerim tak mau ambil pusing apalagi ketika ponsel Nara kembali bergetar dan sudah dipastikan itu dari Baekhyun yang menelponnya bahkan mengiriminya pesan berkali-kali. Akhirnya Hyerim mengambil langkah lebih dulu dibanding meladeni sifat Nara yang menurutnya kekanak-kanakan itu maka tersisalah Nara di koridor yang agak sepi karena masih sedikit pagi, dirinya berjalan santai dan mulai berbelok ke persimpangan lain yang menuju taman. Pagi ini dirinya ingin menyegarkan pikiran di taman sejenak, akan tetapi segerombolan siswi datang dengan wajah tak bersahabat mendekatinya. Seketika Nara meneguk ludah takut.

“Eh Kim Nara. Benarkan itu dirimu?” kata salah satu diantaranya, Kwon Minsi yang merupakan ekhem mantan dari Byun Baekhyun, melipat tangan didepan dada dengan pandangan menghunus pada Nara yang makin mencicit.

“Sepertinya benar ini Nara yang menggoda Baekhyun,” sahut siswi yang datang bersama Minsi setelah sebelumnya melirik tag nama Nara yang tertera di seragam gadis itu.

Keempat siswi itu termasuk Minsi di dalamnya berjalan lebih mendekati Nara yang reflek berjalan mundur satu langkah dengan gerakan bola mata liar. Dirinya takut luar biasa tanpa mau menatap langsung keempat siswi itu.

Setelah mengumpulkan keberaniannya, Nara bertanya dengan pita suara takut. “Mau apa kalian?”

Minsi yang sepertinya mempunyai urusan dengan Nara maju selangkah dengan tangan berkacak pinggang, lalu kawannya yang lain langsung mengelilingi Nara sambil menatap gadis itu menusuk. Diam-diam Nara meremas ujung tas selempangnya.

“Kulihat kau sedang ada masalah dengan Baekhyun,” Minsi mulai berkata dengan senyum miring membuat ludah Nara terteguk masuk kekerongkongan. “Ya, aku tak tahu masalah apa. Intinya jauhi Baekhyun sebelum terlambat, aku masih tidak terima lelaki itu mencampakanku begitu saja.” pringatan Minsi itu ditambahi tatapan tajam yang serasa menusuk hulu hati, tentu Nara langsung panas dingin di tempat.

Kemudian salah satu teman Minsi menyikut lengan gadis itu. Saat Minsi menoleh padanya, kawannya yang menyikutnya menggerakan kepala seakan kode untuk pergi. “Tidak asyik, Minsi-ya. Dia langsung takut tanpa mengelak, lebih baik pergi saja sekarang kalau dia macam-macam baru kita bertindak.”

Saranan temannya itu direspon anggukan dari Minsi yang lalu menatap Nara kembali. Nara yang tadi berani menangkat pandangannya pada Minsi pun langsung menunduk. Sebelum angkat kaki, Minsi kembali menyarangkan tatapan tajam dan berucap. “Ingat, jauhi Baekhyun. Atau kau akan dapat masalah.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Tungkai Hyerim akhirnya membawa gadis bersifat sebelas dua belas dengan kulkas itu mencapai kelasnya. Dengan wajah datar seperti biasanya, seorang Kim Hyerim memasuki kelasnya dan langsung dihujani tatapan tak bersahabat juga bebarapa siswi yang berbisik-bisik tentang dirinya. Hyerim tak peduli sebenarnya, hanya dia risih bila yang lain mengossipinya dengan Luhan. Demi langit berserta isinya, Hyerim ingin sekali menenggelamkan laki-laki itu ke rawa-rawa saja atau menampar para murid yang mengidolakannya karena jelas Luhan itu lelaki kurang hajar dalam kamus Hyerim.

“Huh,” helaan napas keluar dari bibir manis berlapis liptint cherry itu tatkala Hyerim mendudukan diri di kursinya, masih banyak murid yang menatapnya penuh minat tapi ia abaikan begitu saja.

Sekon selanjutnya, Si Ketua Kelas dengan status kekasih Luhan itu sibuk membuka buku pelajarannya lalu menunduk sambil membaca isinya. Hyerim terlalu fokus menyelami tulisan demi tulisan yang tersirat dalam buku pelajarannya yang menampilkan materi-materi ujian tengah semester beberapa bulan kedepan, hingga ia tidak menyadari sosok yang dirinya berikan titel lelaki kurang hajar itu datang dengan senyum merekah menggoda kaum hawa.

Luhan masih mempesona seperti hari-hari sebelumnya. Dirinya tersenyum membuat para murid perempuan memekik tertahan. Tungkai Luhan masih merajut langkah menuju kurisnya tatkala kepalanya tak sengaja tertoleh pada satu objek; seorang gadis yang sedang sibuk membaca dan tersenyum sangat manis. Kim Hyerim, gadis yang sukses membuat organ milik Luhan kaku seketika dengan mata yang tak sanggup berkedip. Hyerim menyibak rambutnya kebelakang telinganya dan masih tersenyum pada buku bacaannya yang bahkan Luhan tak pernah menerima senyuman itu. Apakah buku itu lebih menarik darinya?

Samar, Luhan tersenyum tipis akan tingkahnya sekarang. “Apa aku lebih dulu menyukai gadis itu dibanding dirinya yang menyukaiku duluan?” gumamnya dalam hati.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Byun Baekhyun! Ya! Kamu salah makan, ya?!” semprotan dari vokal Chanyeol terdengar disertai tatapan sebalnya pada Baekhyun.

Yang disemprot pun tampak tersentak kaget lalu menoleh pada Chanyeol dengan wajah linglung. Entah sudah berapa kali Baekhyun melakukan kesalahan dilatihan hari ini, padahal biasanya ia paling bersemangat latihan namun Si Vokalis Utama itu terus-menerus salah mengumandangkan bait lagu bandnya. Terlihat Jongin juga menatapnya sebal namun tertahan.

Baekhyun menunduk lalu membuang napas frustasi. “Maaf, aku kurang fokus,” katanya dengan nada bersalah dan Chanyeol pun terlihat menghela napas frustasi juga karena ungkapan bersalah itu sudah Baekhyun ulang sedaritadi layaknya kaset rusak.

Di lain sisi, Jongin terlihat memainkan senar gitarnya dengan santai lalu mulai buka suara tanpa menatap Baekhyun. “Sepertinya hubunganmu dengan Nara, Nara itu kurang baik.”

Vokal yang Jongin berikan serasa menyindirinya yang akhirnya membuat Baekhyun menatapnya tak suka. “Lalu kau senang huh?” balas Baekhyun dengan mata memicing.

Mencium akan ada pertengkaran, Chanyeol pun menatap bergantian Jongin dan Baekhyun was-was dengan bibir bawah tergigit. Akan tetapi Jongin yang sedang duduk di sofa pun membetulkan posisi duduknya dan yang semula tubuhnya yang bersandar ke punggung sofa pun, ia gerakan condong ke depan dengan satu alis terangkat menatap Baekhyun.

“Kukira kamu mengikuti taruhanku dengan Luhan juga,” kata Jongin lalu membuang muka untuk menatap Baekhyun yang bergeming saat ini. “Ternyata kamu sungguh menyukai gadis itu.”

Chanyeol yang tadi cengo beberapa saatpun akhirnya mampu menyadarkan diri dan berkata dengan nada memekik. “Taruhan? Maksudmu taruhan Luhan tentang dirimu yang harus keluar dari klub basket?” dengan santainya Jongin mengangguk sambil melirik Chanyeol sekilas. “Berarti…” dan Chanyeol tak sanggup melanjutkan kata-katanya lalu ia menoleh ke arah Baekhyun yang memasang wajah dingin.

“Ya, aku memang menyukai Kim Nara dan sudah memperhatikannya. Luhan pun tahu itu. Dan Chan, kuharap dirimu bungkam dan jangan beritahu Hyerim atau Nara, terkhusus untuk Hyerim, dia pasti sakit hati.” itulah perkataan Baekhyun dengan tatapan dalam pada Chanyeol diakhir sebelum angkat kaki dari tempat latihannya bersama anggota bandnya.

Saat berjalan menuju area luar sekolah, Baekhyun pun masih menampakan raut lesu. Baru kali pertama ini dirinya frustasi karena gadis. Dan baru pertama kalinya ia merasakan perasaan serius pada seorang gadis. Kim Nara merubah sosoknya menjadi lelaki yang akan takluk pada satu wanita saja. Namun seakan panjang umur, sosok Nara tiba di ujung koridor menyebabkan Baekhyun berhenti melangkah begitupun Nara yang memasang wajah kaget.

“Nara,” panggil Baekhyun spontan, mengabaikan raut kaget gadisnya dan dirinya pun mengulum senyum sebaik mungkin namun detik selanjutnya Nara malah membalikan badan dan berjalan buru-buru. Melihat hal tersebut membuat Baekhyun kehilangan beberapa momen atas keterkejutannya sebelum ikut berjalan cepat-cepat dan memanggil. “Nara-ya.”

Tentu Kim Nara sangat tahu pemuda Byun yang merupakan kekasihnya itu mengejarnya, gadis Kim itu pun tampak resah dan terus berjalan buru-buru menjauhi Baekhyun. Selain masih menyimpan jengkel, terselip juga ancaman dari mantan kekasih Baekhyun tadi pagi. Ugh, sulitnya menjalin kasih dengan lelaki populer.

Tatkala keduanya sudah berjalan di tortoar yang menandakan mereka berdua sudah keluar dari sekolah, vokal Baekhyun kembali menyeruak memenuhi runggu Nara. “Nara, berhenti.”

Tapi printah itu tak Nara idahkan. Baekhyun yang sudah tak tahan pun akhirnya melangkah lebih lebar-lebar sampai akhirnya sudah berada sejengkal di belakang gadisnya dan tanpa menunggu lagi, Baekhyun langsung meraih tangan Nara membuat gadis itu berbalik ke arahnya. Setelahnya Baekhyun mengatur napas yang terengah lantaran lelah mengikuti Nara dari tadi.

Bola mata Nara tampak bergerak tak tenang sementara Baekhyun membuang napas sesaat lalu tersenyum kecil. “Mau sampai kapan kamu menghindariku?” tanya Baekhyun dengan tatapan memelas.

Dada Nara pun naik turun pertanda dirinya juga kelelahan, gadis itu menatap sebal Baekhyun kemudian menepis tangan pemuda itu sambil melihatkan muka kesal. “Sampai mati.” jawab Nara cuek lalu berbalik dan mulai merajut langkah pergi.

Tapi Baekhyun tidak mau kehilangan kesempatan lagi, segera dirinya meraih bahu Nara dan memutar tubuh gadisnya kemudian menariknya kepelukan hangatnya. Aksinya membuat obsidian Nara melebar pertanda kaget.

“Maafkan aku. Aku tahu kamu kesal sekali saat masakanmu dikritik pedas seperti itu. Harusnya aku berkata masakanmu sangat enak. Ya, baiklah aku tak tahu bagaimana caranya agar dirimu memaafkanku. Kalau begitu bawakan saja bekal untukku dari hasil buatanmu setiap hari. Aku rela mual-mual asal dirimu membuatkannya khsusus untukku,” ucapan Baekhyun membuat Nara tersentuh walau secara halus pemuda Byun itu mengatakan masakannya mengerikan namun tutur katanya membuat Nara jadi salah tingkah.

Tapi gadis Kim itu malah mendorong Baekhyun menjauh dan memberikan tatapan maut. “Maafmu tidak diterima,” ujar Nara yang kembali membalikan tubuh untuk berjalan menjauh.

Di belakang gadis itu, Baekhyun memasang wajah memelas putus asa. Dirinya pun kembali mengikuti Nara. “Nara, ayo maafkan aku,” dan permintaan maafnya tidak diterima, lagi-lagi Baekhyun membuang napas dan berucap. “Nara, maafkan―”

Namun ucapan Baekhyun terpotong karena sebuah motor yang tiba-tiba datang ke arah Nara. Dengan gerakan gesitnya, Baekhyun meraih tangan Nara lalu menariknya membuat tubuh gadis itu berputar serta berakhir dipelukan hangatnya. Kejadian itu berlalu cepat bagi Nara yang berada dipelukan Baekhyun kini. Wangi parfum lelaki itu memenuhi indra penciumannya, jantung milik Nara maupun Baekhyun mengumandangkan detakan keras.

Ditengah atmosfer tersebut, kepala Baekhyun terangkat kepada punggung pengemudi motor yang tidak tanggung jawab itu yang mana Si Pengemudi malah main pergi begitu saja. Sambil melayangkan tatapan kesal, Baekhyun berteriak. “Ya! Dasar Gila!”

Dan Nara yang ada dipelukan Baekhyun pun mengangkat kepala dan seketika terpaku kala pemuda bermarga Byun itu menatapnya membuat kedua bola mata keduanya bertatapan. Seketika pipi Nara memanas dengan rona merah yang mungkin muncul. Setelah bergeming dengan posisi begitu, senyum tipis Baekhyun tercetak sambil menatap gadisnya gemas.

“Aku sudah menyelamatkanmu, masih tidak mau memaafkanku?” kata Baekhyun membuat Nara mengedipkan mata lalu membuang muka ke arah lain. Lagi, Baekhyun tersenyum gemas lalu memberikan cubitan dipipi kanan Nara. “Benar tidak mau memaafkanku?”

Dengan pipi mengembung dan masih menatap ke arah lain, Nara menyahut. “Ya, ya, aku maafkan.”

Ucapannya membuat senyum lebar Baekhyun tercipta lantas pemuda bernama lengkap Byun Baekhyun itu memberikan kecupan dipuncuk kepala gadisnya. Yang mana hal tersebut membuat rona merah yang samar dipipi Nara jadi sempurna terlihat, gadis itu menoleh ke arah Baekhyun yang sekarang mengusap pipi kanannya.

“Terimakasih sudah memaafkanku.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Aneh. Keadaan itu terlihat diantara Hyerim dan Luhan yang sedang duduk di sofa ruang TV rumah keluarga Kim. Entah badai dari mana, Luhan kembali menginjakan kaki di rumahnya dan malah mengajaknya menonton drama romantis pecicisan yang sebenarnya tidak selevel akan gadis semacam Hyerim. Descendants of the sun. Drama yang sedang booming itu bukan selera Hyerim sama sekali. Bukan karena Song Joongki yang tidak tampan baginya, hanya Hyerim memang kurang suka drama romantis walau tercampur hal-hal semacam militer maupun medis, seperti drama yang ia tonton sekarang.

Dalam kegiatan menontonnya, Hyerim melirik Luhan yang terlihat santai menonton. Lirikan mata Hyerim terkesan sinis walau diam-diam memuji profil Luhan yang tampan dari samping. “Ternyata kau ini berhati hello kitty ya. Suka sekali drama romantis pecicisan seperti ini,” sindir Hyerim lalu kembali menonton TV di depannya.

Tanpa mengalihkan mata dari adegan di TV, Luhan menyahut. “Sebenarnya aku tidak suka. Hanya ya, ingin mengetest apakah dirimu sudah menyukaiku atau belum. Biasanya dengan menonton drama romantis dengan orang yang kau sukai, kau akan salah tingkah sendiri.”

Bola mata Hyerim berputar malas mendengar sahutan itu. “Katanya jangan dulu jatuh cinta padamu. Sekarang seakan dirimu memintaku jatuh cinta padamu. Yang benar yang mana?”

Kata-kata sinis Hyerim membuat Luhan bergeming. Dirinya kadang pula bingung, ada disaat dirinya kasihan pada gadis itu yang ia jadikan mainan tapi ada juga saat dirinya ingin memenangkan taruhan Jongin. Akhirnya hening menyapa keduanya yang kebetulan sedang berdua di rumah. Ibu Hyerim memang sering berkerja sampai malam karena beliau tulang punggung keluarga satu-satunya dan Nara juga menghilang entah ke mana―lebih tepatnya belum pulang setelah mengatakan ada kegiatan ekskul.

“Aku bisa meminumnya dengan cara lain,” suara Song Joongki yang berperan sebagai Yoo Shijin itu terdengar, setelahnya dirinya mendekati Kang Moyeon―yang diperankan Song Hyekyo.

Adegan selanjutnya membuat Hyerim terdiam layaknya manekin, wajahnya seakan tersiram air es dingin saat melihat adegan ciuman di TV itu. Wine kiss. Di sebelahnya pun, Luhan memasang ekspresi yang sama. Diam-diam dirinya mencuri pandang ke arah bibir Hyerim yang selalu dipolesi liptint cherry, ya Luhan sudah menciumnya tiga kali jadi dirinya tahu betul liptint yang selalu dipakai gadis itu. Dan sial, dirinya jadi tergoda untuk menyentuh bibir itu lagi. Tanpa sadar Luhan tambah mendekati Hyerim yang sedang mengedipkan mata beberapa kali tatkala drama di depannya menampakan tulisan bersambung, dirinya tak sadar akan Luhan yang sudah berada sangat dekat dengannya dan mulai menggerakan tangan untuk merangkulnya dan menariknya sampai…

“AKU PULANG!”

‘BRAK!’

Timing yang sama saat suara teriakan Nara terdengar membuat Luhan terkejut dan terjungkal dari atas sofa. Melihat kejadian di depannya membuat Hyerim menatap Luhan yang sedang duduk di atas karpet ruang TV sambil mengaduh itu dengan tatapan heran. Sementara Nara yang datang dengan Baekhyun saling lempar pandangan heran karena suara jatuh Luhan yang tidak mereka ketahui suara jatuh apa itu.

“Aduh, sial,” umpat Luhan sambil mengelus-elus kepalanya lalu menoleh pada Hyerim yang menatapnya tanpa ekspresi.

Langsung saja Luhan meringis malu karena mengira ada kesempatan melakukan sesuatu karena adegan di TV tadi lantaran hanya berdua dengan gadis Kim itu namun semuanya kacau karena Nara dan Baekhyun yang datang. “Akh.” Luhan meringis sambil buang muka sangking malunya.

Dan di tempatnya Hyerim melipat tangan dengan satu alis terangkat, diam-diam dirinya tersenyum geli melihat aksi Luhan. Namun suara dari dapur terdengar bising membuat Hyerim mengalihkan tatapan ke arah sana.

“Baekhyun, biar aku saja.” terlihat Nara berusaha merebut wajan dan telur yang ada ditangan Baekhyun namun lelaki itu menjauhkannya agar Nara tak dapat meggapainya.

Kepala Baekhyun menggeleng dan berkata. “Biar aku saja, aku kan yang akan mengajarimu memasakn sekarang.” Nara terlihat cemberut tapi Baekhyun malah memutar tubuh ke arah kompor listrik di sampingnya dan mulai menyalakannya.

“Baekhyun, ayolah aku―Ya!” tiba-tiba Nara memekik kala Baekhyun menarik bibirnya gemas membuat Nara tambah memberengut dan memukul bahu Baekhyun pelan. “Aku ingin memasak.” Nara memelas namun Baekhyun menggeleng dengan tatapan tertuju pada wajan dan telur yang baru ia pecahkan dan ia masak sekarang.

“Duduklah, baru besok siapkan masakan untukku. Aku janji memakannya sampai habis,”

“Tidak mau,”

“Aih, Kim Nara.”

Di sisi lain pun, Luhan menatap pasangan itu dengan tatapan laser dan mengumpat. “Seperti biasa, dasar peganggu.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Hari ini Kim Nara kembali hyper seperti biasa. Dan sungguh itu pun membuat Hyerim pusing bukan main. Gadis itu bersenandung keras-keras, menghentakan kaki sangat kencang, menggoyang-goyangkan badan sembrono, dan lebih parahnya terus tersenyum bahkan ke tiang listrik pun ia tersenyum. Moodnya kembali lagi setelah bermesraan dengan menghancurkan dapur dengan Baekhyun kemarin sore. Alhasil Hyerim harus membereskan kekacauan itu, well to be honest, dirinya membersihkannya bersama Luhan tapi tetap saja itu merepotkan.

“Kudoakan kamu berkelahi lagi dengan Baekhyun,” ucap Hyerim seperti biasa, dingin dan sinis lalu dirinya kembali melangkah meninggalkan Nara yang berhenti sejenak lalu menatap punggung kakaknya datar.

“Heh, kau ini tidak suka saja orang bahagia,” seru Nara namun Hyerim keburu menghilangkan diri dengan berbelok ke sebelah kiri.

Sambil kembali bersenandung, Nara berjalan riang namun seketika badannya dilanda panas dingin tatkala sosok Minsi dan gengnya muncul mendekatinya dengan wajah bringas. Langsung saja Nara menelan ludah gugup karena ketakutan. Akhirnya keempatnya dengan muka tak bersahabat dan tangan terlipat sudah ada di depan Nara.

“Heh, sudah kubilang bukan jauhi Baekhyun?” bentak Minsi langsung lalu meraih lengan baju Nara yang tambah takut. Bola mata gadis bermarga Kim itu bergetar sangking takutnya. “Kau cari gara-gara ya denganku dasar gadis ja―”

“Jalang? Bukannya itu dirimu?” seketika suara husky khas Byun Baekhyun menyela membuat Minsi gugup seketika dan menoleh ke arah belakang diiringi tangannya yang menyentuh lengan baju Nara turun, binar matanya seketika menciut melihat benar sosok Byun Baekhyun di belakangnya sedang berjalan ke arahnya.

“Bila belum bisa melupakanku, jangan sakiti gadis yang tidak salah apa-apa.” adalah ucapan Baekhyun ketika sampai di tempat keributan. Minsi bersama keempat temannya menunduk dalam dengan tangan meremas rok seragam kuat-kuat, sementara Nara bingung harus bagaimana.

Melihat Minsi tak berkutik, Baekhyun beralih menatap Nara dan melihatkan senyum lembut lalu meraih tangan gadisnya. “Ayo Nara, kita pergi.” lalu keduanya pun mulai merajut langkah menjauh.

Namun baru lima langkah keduanya menjauh, sesuatu mengenai belakang kepala Nara membuat gadis itu membatu diikuti Baekhyun yang langsung berbalik dan membuka mulut lebar. Detik berikutnya Baekhyun menyarangkan tatapan tajam pada Minsi yang dadanya naik turun menahan amarah, gadis itu barusan melempar telur busuk kerambut Nara. Dan aksinya ditonton hampir banyak murid yang mulai berdatangan.

“Hey, Kim Nara! Kuberitahu ya, hidupmu menyedihkan. Baekhyun itu seorang player, dia barang bekas dari banyak siswi. Paling tidak kau akan jadi secondnya Baekhyun―ups, aku keceplosan,” kata Minsi disambut kekehan meledek dari ketiga temannya, murid yang menyaksikan mulai berbisik-bisik menyetujuinya. “Mana mungkin Baekhyun menyukai gadis kekanak-kanakan sepertimu. Mengacalah!” tambah Minsi pedas membuat Baekhyun geram bukan main.

“Benar, aneh saja bila Byun Baekhyun menyukai gadis seperti itu,” langsung saja terdengar sahutan dari murid lain yang mana membuat Minsi tersenyum puas.

Sahutan lain dengan anggukan setuju terdengar. “Iya, paling Kim Nara jadi bekasnya Baekhyun seperti mantannya yang lain.”

Perkataan pedas yang melewati gendang telinganya membuat mata Nara memanas menahan tangis, lantas dirinya menyingkirkan tangan Baekhyun lalu berlari sekuat tenaga. Baekhyun yang sejak tadi menampilkan raut geram memandangi punggung gadisnya nanar, kemudian menatap Minsi yang mengangkat dagunya tinggi-tinggi lantas pemuda Byun itu mendesis lalu berlari menyusul Nara.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Sudah, jangan menangis. Matamu memerah kembali,” suara Im Nayeon yang merupakan sahabat Nara itu terdengar di belakang gadis itu.

Mungkin mudah bagi Nayeon mengatakannya, namun Nara yang merasa diinjak-injak oleh mantan kekasih Baekhyun yang sepertinya sangat dendam pada lelaki Byun itu terasa sangat nyeri. Bekas Baekhyun? Apakah dirinya akan dapat gelar seperti itu nanti? Nara pun membuka pintu rumahnya lalu mengusap kasar air mata yang mulai merembet turun. Selagi membuka sepatunya, Nayeon yang ada di belakangnya mengekori dan turut membuka sepatu.

Seharian ini Nara menghindari Baekhyun lagi karena merasa sakit hati, lalu seharian ini juga dirinya kadang mendengar celetukan pedas dari siswi lain akan dirinya yang akan jadi secondnya Baekhyun yang keberapa kalinya. Cobaan menjadi kekasih pangeran sekolah, bukannya begitu? Dan untung seharian ini, Nara berhasil menghindari Hyerim yang sikapnya cuek bebek jadi dirinya yang tiba-tiba mental breakdown itu gampang menyembunyikannya dari Hyerim yang memang suka sekali risih karena sikapnya yang super hyper. Jadilah Nayeon menjadi pelariannya kini, lagipula Nara seribu persen tahu Hyerim kurang mengerti perihal percintaan karena traumanya walau sekarang kakaknya itu sudah memiliki kekasih.

“Byun Baekhyun menyebalkan! Kenapa dia harus jadi pangeran sekolah dan mantan playboy? Sungguh aku membencinya!” teriak Nara sambil melepaskan tas selempangnya dan melemparnya ke lantai rumahnya dengan wajah berantakan. Lemparannya menyebabkan bunyi bising diiringi beberapa barangnya yang keluar dari tasnya.

Di belakangnya, Nayeon membuang napas lalu membuka sepatunya sebelum memasuki rumah keluarga Kim. Diberikan oleh Nayeon elusan lembut dibahu Nara namun gadis itu menepis kasar tangannya lalu merajut langkah lebar-lebar. Dirinya pun melewati Hyerim yang sedang memakan kacang sambil menonton film horror di ruang TV, kakaknya yang super kurang peka itu meliriknya heran.

“Ada apa denganmu?” tanya Hyerim, walau dirinya tidak peka bahkan kelewat bodoh masalah cinta tapi dirinya tetap seorang kakak yang paham akan keberubahaan mood adiknya yang anehnya hari ini menjauhinya di sekolah.

Nara yang ada di tangga kedua menuju lantai atas itu melirik Hyerim dengan mata merah yang langsung Hyerim sambut dengan wajah cengo penuh keheranan. “AKU BENCI PADAMU, UNNI! KENAPA KAU BERPACARAN DENGAN LUHAN OPPA DAN TERLIHAT LANCAR SAJA HAH?! MENYEBALKAN!”

Setelah berteriak yang menyebabkan jantung Hyerim hampir copot, Nara berlari menuju kamar Hyerim dan membanting keras pintunya. Hyerim menampilkan raut wajah syok dengan mulut terbuka lalu dirinya menggeleng.

“Ck, kalau ingin menangis heboh pakai saja kamar sendiri. Astaga anak itu,” decak Hyerim sambil geleng-geleng lalu mengalihkan pandangan dan kebetulan mendapati Nayeon yang membatu di tempatnya, sejenak Hyerim kaget akan hadirnya sahabat adiknya itu. “Astaga, Nayeon! Kamu mengagetkanku!”

Nayeon hanya menampilkan senyum tipis lalu menggaruk belakang kepalanya. “Maafkan aku, Hyerim. Aku ke sini karena ya, Nara sedang tekanan batin karena Baekhyun.” ucap Nayeon dengan tampang bingung bercampur risihnya karena tak tahu harus bagaimana sekarang.

“Biarkan saja anak itu. Aku yang akan mengurusnya dan berbicara dengannya saat ia tenang. Kamu pulang saja,” ujar Hyerim dengan senyum tipis.

Dengan gerakan kaku, Nayeon mengangguk lalu membungkuk setengah. “Ya, baiklah. Aku pamit dulu,” pamit Nayeon seraya memutar tubuhnya namun sebelum melangkah, Nayeon berucap. “Kamu tahu, Nara seperti itu karena dibilang dimainkan oleh Baekhyun. Memang sedikit aneh bila Baekhyun serius padanya dan… bukan apa-apa, aku juga menaruh curiga pada Luhan. Jadi lebih baik kamu juga hati-hati.”

Perkataan terakhir Nayeon itu membuat Hyerim yang sedang menggerakan tangan mengambil kacangnya berhenti. Pikirannya berkecabang ke mana-mana. Dimainkan? Dirinya? Oleh Luhan? Memikirkannya membuat hatinya teriris.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Hari sabtu yang merupakan weekend ini terasa kurang ceria ketika di pagi hari tidak ada suara Nara yang heboh dan kegiatan memasaknya yang kelewat sembrono. Untung Ibu Hyerim maupun Nara ada tugas ke luar kota jadi tidak perlu Nara menjawab rentetan pertanyaan layaknya rel kereta api dari ibunya. Bayangkan, matanya sembab, hidungnya merah, bahkan dirinya belum mandi dari pagi dengan rambut kusutnya. Kim Nara layaknya monster.

Hyerim mendelik ngeri ke arah adiknya yang sedang menonton mellodrama di sebelahnya. Ya, Hyerim pun ikut menonton takut-takut bila adiknya itu menangis heboh. Nara berakali-kali sesegukan dan merasakan hidungnya mampet karena tangisannya, maka dari itu dirinya akan langsung sigap memberikan Nara tisu.

“HUAAA!” Nara berteriak kala melihat adegan sedih di drama dan mulai menangis heboh lagi.

Sementara Hyerim menatap datar televisi sambil menarik satu lembar tisu dari tempatnya dan menyodorkannya pada Nara dengan malas lalu gadis itu menyambarnya dan memakainya untuk menyeka air mata dan membersihkan hidungnya yang mampet. Langit sore mulai menggelap ditandai malam akan segera tiba. Ditengah atmosfer aneh dengan tekanan batin Nara, ponsel gadis itu bergetar dan dengan mata sembabnya ia menarik ponselnya lalu membuka inbox pesan.

‘Bisa ke sekolah hari ini? Akan kubuktikan pada semua orang aku serius padamu. Bahkan aku mengumpulkan hampir seluruh siswa di sini. Ayo datanglah, kumohon’ [From : Byun Baekhyun, 05.35 PM]

“HUAAA!! DIA MALAH MENG-SMSKU UNTUK MENEMUINYA. MENYEBALKAN!” teriak Nara dengan suara agak serak namun dirinya bangkit juga dari duduknya untuk menuju kamar sambil lengannya menyikut air mata yang akan jatuh dari pelupuk matanya.

Hyerim yang masih diam di tempatnya mendengus, adiknya itu kelihatan sebal sampai berteriak tapi bersiap-siap juga untuk menemui pujaan hatinya. Akhirnya Hyerim memilih mengambil remot televisi dan mulai mengganti saluran akan tetapi suara bising ponselnya membuat bola matanya berputar malas. Tanpa melihat siapa peneleponnya, Hyerim mengangkatnya tanpa minat.

“Hallo?” ujar Hyerim dengan suara ayunya, walau malas ia harus tetap sopan, bukan begitu?

“Hey, Kim Hyerim,” terdengar suara racauan yang membuat Hyerim mengerutkan alis lalu menjauhkan ponsel sejenak untuk melihat siapa peneleponnya. Luhan. Nama itulah yang tertera.

“Eo? Kau kenapa? Mabuk?” ucap Hyerim sinis sambil mengambil toples kacang yang Nara tinggalkan di atas karpet lalu membukanya dan menjelajahi isinya untuk ia masukan ketubuhnya.

Terdengar suara bising dari sebrang sana membuat Hyerim mengerut bingung hingga akhirnya tahu bahwa Luhan sedang berada di sebuah club. Menyadarinya membuat Hyerim mendengus keras. Tak salah bukan dirinya menuliskan Luhan sebagai laki-laki kurang hajar dalam kamusnya?

“Kenapa kamu sulit sekali ditaklukan hah?! Dasar gadisuhuk!”

Kerutan bingung nampak diwajah Hyerim kala suara berisik terdengar di ujung telepon, mendadak dirinya khawatir pada Luhan namun sekon selanjutnya terdengar suara bass lelaki yang jelas bukanlah suara Luhan.

“Hallo nona, sepertinya kekasih anda mabuk berat. Bisa menjemputnya? Alamatnya adalah Sapphire Club, Dongdaemun-gu.”

Hyerim sejenak menggigit bibir bawahnya lalu melirik sekilas pintu kamar Nara, terdengar adiknya itu ribut karena acara bersiap-siapnya. Lalu Hyerim pun mengalihkan tatapannya dan menghela napas. “Tunggu, aku akan ke sana.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

‘Ting!’

Suara gelas berisi minuman berkadar alkohol itu saling bersulang sebelum akhirnya dikonsumsi dua lelaki berparas tampan itu. Salah satu dari keduanya melirik kawannya yang masih meminum minuman alkohol itu dan belum menghabiskannya sekali teguk layaknya dirinya.

“Bagaimana dengan taruhan kita?” tanyanya pada Luhan, lelaki yang baru selesai meneguk habis minuman alkohol tersebut lalu mendesis dan meliriknya. Kim Jongin, pemuda itu hanya tersenyum simpul.

Seraya menuangkan kembali minuman berkadar alkohol itu, Luhan menjawab. “Menurutmu?” kembali Luhan meneguk minumannya. Sudah lama ia tidak ke club, dirinya jadi rindu tempat ini.

Tampak Jongin menangkat bahu lalu mengambil kudapan di atas meja dan menggigitnya, sambil mengunyah dirinya berucap. “Ya, melihat sepertinya kamu ada kemajuan dengan Hyerim. Akan lebih mengasyikan bila taruhan kita ditambah, bagaimana?” senyum miring dilihatkan Jongin sambil kembali menggigit kudapannya.

Sementara Luhan yang sedang menerawang mengingat sosok jelita Hyerim itu seketika kaget dan menatap Jongin dengan dahi berkerut. “Maksudmu?”

Botol yang ada ditangan Luhan pun direbut oleh Jongin yang menuangkan kembali minuman beralkohol itu ke gelasnya lalu meneguknya setengah. Luhan masih menatapinya dalam membuat Jongin mendesis geli.

“Ya, sepertinya gadis itu mulai tertarik padamu…” ujung bibir Jongin membentuk sebuah senyum miring lagi. “… jadi akan asyik bukan bila kamu mencampakannya dengan kejam ketika dirinya sudah jatuh cinta padamu. Bila kamu berhasil aku bahkan mau jadi budakmu.”

Lantas mata Luhan membulat sementara dengan santainya Jongin meneguk minumannya. Hati Luhan seketika berdenyut mengatakan jangan akan ucapan Jongin. Tangannya yang tak memegang gelas yang dipakainya minum dari tadi pun mengepal di atas celana jeansnya.

“Sebelum aku melakukan itu, aku ingin kau mencampakan Soojung dengan kejam dulu,” kata Luhan dingin membuat Jongin yang sedang meneguk sisa terakhir minumannya tersedak lalu menyarangkan tatapan tak setuju.

“Kau gila? Aku mencintai Soojung! Tidak sepertimu, idiot,” Luhan hanya menampilkan senyum meringisnya, kemudian Jongin melanjutkan. “Ayolah, Lu. Kamu bahkan sudah memakai wanita berapa kali. Apa susahnya melakukan itu pada gadis seperti Kim Hyerim hah? Hanya dirimu yang belum terikat penjara asmara. Byun Baek sudah, aku sudah, Yixing sudah. Hanya dirimu, jadi mainkan wanita sesukamu seperti biasanya.” ucap Jongin sambil menepuk bahu Luhan keras-keras.

Tampak Luhan buang muka. Ucapan Jongin seakan mencubit hatinya. Seketika dirinya bimbang. Apakah dirinya sendiri sudah jatuh pada Hyerim atau selama ini hanya berperan untuk memenangkan taruhan? Dirinya frustasi hingga akhirnya memilih menuangkan banyak-banyak alkohol ke gelasnya dan meneguknya sekali teguk, lalu dirinya pun melakukannya lagi membuat Jongin memandangnya takjub. Luhan frustasi dan bimbang, hanya karena seorang gadis bernama Kim Hyerim.

“Ya, minumlah sebanyak yang kamu mau.” ucap Jongin karena tahu bila Luhan sudah begitu artinya lelaki itu tidak bisa diganggu, kemudian Jongin berlalu keluar dari ruangan VIP itu.

Tertinggalah Luhan yang meneguk sisa alkohol di gelasnya. Pikirannya melayang pada sosok Hyerim. Wajah dinginnya. Senyum kecutnya. Tatapan datar bin jengkelnya. Tingkahnya yang kelewat pasif. Namun, gadis itu kadang tersenyum manis dengan wajah bak bidadarinya. Shit! Luhan serasa diguna-guna karena otaknya teracuni sosok Hyerim yang membuatnya sekarang menghabiskan satu botol minuman alkohol yang untungnya tidak berkadar tinggi.

Dengan kesadarannya yang masih agak pulih, Luhan mengambil ponselnya lalu menekan-nekan layar sentuhnya kemudian menaruhnya ditelinganya. Sebuah nada sambung terdengar. Ya, dirinya menghubungi oknum yang membuatnya tak waras yakni Kim Hyerim.

“Hallo?” ujaran Hyerim dengan suara ayunya terdengar memenuhi runggu Luhan yang menampilkan binar mata nanar dan senyum kecut

“Hey, Kim Hyerim,”―”Aku merindukan suaramu,” entah bagaimana hatinya bergumam demikian.

“Eo? Kau kenapa? Mabuk?” ucap Hyerim sinis sambil terdengar gadis itu bergerak mengambil sesuatu.

Sejenak, Luhan menjauhkan ponselnya kala pintu ruang VIP terbuka dan melihat seorang gadis dengan pakaian minim masuk juga diikuti satu pelayan club yang mengantarnya. Oh, gadis yang Jongin panggil datang. Luhan pun bergumam dengan suara paraunya yang masih bisa gadis itu dengar.

“Ke marilah.” diikuti jari tangan yang tidak memegang ponsel bergerak menyuruh mendekat. Lalu Luhan kembali menempelkan ponsel ketelinganya dan gadis tadi tampak duduk diam di sebelahnya.

“Kenapa kamu sulit sekali ditaklukan hah?! Dasar gadis―uhuk!” ucap Luhan kembali kepada Hyerim lalu dirinya berpura-pura batuk dan menjauhkan ponselnya kembali lalu berucap sedikit pelan. “Heh, kau ke sini.” pelayan yang hendak keluar pun berbalik dengan wajah bingung dan berjalan mendekati Luhan.

Saat pelayan lelaki itu di sebelahnya, Luhan mendekati wajah ketelinganya dan berbisik. “Bilang bahwa aku mabuk berat dan suruh kekasihku ini datang. Aku membutuhkannya.” dan pelayan itu pun mengangguk menurut saat Luhan memberikan ponselnya.

Sementara itu, Luhan menatap gadis manis yang tersenyum menggoda padanya. “Mencampakannya, Jong? Kamu ingin aku melakukan itu? Sepertinya lebih baik aku melakukannya lebih cepat sebelum gadis itu makin tersakiti.” gumam Luhan dalam hati lalu mulai mendekati gadis di sebelahnya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Selama menelusuri lorong sempit yang membawa Hyerim pada ruangan Luhan saat ini, gadis itu terus memeluk lengannya sendiri dengan gerakan mata liar. Lorong yang ia lewati memiliki penerangan minim sementara Hyerim sendiri penderita achluophobia, phobia terhadap tempat atau suasana gelap. Rambut kuduknya berdiri apalagi ketika lelaki berbau alkohol tertarik pada wajah cantiknya, namun untung seorang pelayan yang menelponnya berbaik hati mengiringnya ke tempat Luhan berada sekarang.

“Nona, ini tempatnya,” akhirnya Si Pelayan berhenti seraya menyingkir mempersilahkan Hyerim untung masuk.

Hyerim menoleh padanya sebentar lalu tersenyum. “Terimakasih,” pelayan tersebut mengangguk lalu izin undur diri.

Setelah membuang napasnya, Hyerim meraih gagang pintu ruang VIP itu kemudian membukanya. Namun rasanya Hyerim menyesal tatkala memilih membuka pintu yang membatasinya dengan Luhan dan… seorang wanita. Matanya seketika memanas, kepalanya seakan berputar-putar, hatinya berdenyut sakit. Masa lampau yang memilukan seakan mendatanginya lagi. Sosok pria kejam yang bermain api dibelakang gadisnya. Hyerim menggeleng. Pemandangan Luhan yang sedang saling melumat mesra dengan seorang wanita murahan itu membuat kepala Hyerim berdenyut sakit.

“Ayah…” Hyerim bergumam lalu menggeleng. Dengan kakinya yang seakan tak sanggup berdiri, Hyerim mulai melangkah menjauh dengan genangan air mata dipelupuk mata.

Kepala Hyerim berdenyut sakit. Matanya terpejam. Secara reflek dirinya menaruh tangannya disamping kepalanya. Dirinya ingat dulu bagaimana ia tak sengaja memergoki ayahnya yang mencumbu mesra seorang gadis lalu demi menutupi hal tersebut, ayahnya mengurungnya di tempat gelap selama seminggu tatkala ibunya dan Nara sedang ke Busan, untuk membesuk neneknya yang sakit. Hyerim menyesal memilih tinggal di Seoul dan melihat perselingkuhan ayahnya. Lalu tatkala seminggu berlalu, ibunya dan Nara kembali menemukan Hyerim pingsan di gudang. Ayah mereka pergi tanpa kabar dan entah ke mana, sampai saat ini hanya Hyerim yang tahu ayahnya berselingkuh, bukan sebatas pergi begitu saja. Mental Hyerim tertekan saat itu. Ia takut berhubungan dengan lelaki, ia takut tempat gelap. Dirinya trauma.

Di lain sisi, Luhan yang sebenarnya tidak mabuk itu mendorong wanita yang bercumbu mersa dengannya dengan gerakan kasar. Ia pun mengusap bibirnya dengan telapak tangannya  secara kasar. Wanita di depannya tampak memandangnya datar.

“Aku akan membayarmu nanti,” ujar Luhan datar kemudian berdiri.

Seketika tungkainya mengeser langkahnya keluar ruang VIP, entah mengapa tiba-tiba hatinya terasa tercebik keras melihat Hyerim menatapnya nanar hampir menangis. Dirinya kembali tidak waras melihat gadis itu tampak kesakitan. Dengan gusar, Luhan melirik ke sana-ke sini, lorong yang ia lewati sangat gelap. Hanya satu objek yang ia cari. Kim Hyerim.

“Tolong! Aku tidak akan mengatakan dirimu berselingkuh, tapi jangan sakiti aku!” seketika sebuah seruan terdengar. Suara itu…

Luhan pun menoleh ke sumber suara. Terlihat Hyerim yang pastinya oknum yang berseru penuh ketakutan barusan, berjongkok dengan menyender di dinding lorong. Gadis itu menangis dengan tubuh bergetar.

Dengan perlahan Luhan mendekatinya dan memanggil gadis itu lembut diikuti wajah khawatir. “Kim Hyerim,”

Langsung saja gadis itu mengangkat kepalanya dan terlihat bola matanya berkaca-kaca, liquid bening tertahan dipelupuk obsidian indah itu. Wajah gadis itu terlihat ketakutan. Dengan perlahan, Luhan makin mendekat ke arah Hyerim lalu ikut berjongkok di depan gadis itu lantas meraih bahunya.

“Hye―”

“Aku akan menganggap dirimu tidak berselingkuh. Jangan sakiti aku!” langsung saja Hyerim memotong dengan jeritannya dan menggerak-gerakan bahunya agar Luhan menjauhkan tangannya namun dengan obsidian pekatnya Luhan menatap Hyerim dalam dan meremas bahu gadis itu lembut.

“Hyerim, dengar. Aku―”

Dengan kepala menunduk pertanda takut bersitatap dengan lelaki di depannya dan badan makin bergerak-gerak untuk melepaskan diri dari Luhan. Hyerim kembali berucap agak histeris. “Tolong lepaskan aku!” diikuti dengan setitik air mata keluar dari pelupuknya.

Gadis itu menangis terisak sekarang membuat Luhan bergeming menatapnya. Hyerim masih saja menunduk menghindari bersitatap dengannya. Hatinya teriris melihat seorang Kim Hyerim kesakitan seperti ini. Lalu dengan gerakan lembutnya, Luhan menarik Hyerim kepelukannya walau gadis itu sempat memberontak namun Luhan mengeratkan pelukannya.

“Dengar, yang kamu lihat tadi hanya ilusi. Tidak nyata. Aku di sini, bersamamu,” ucap Luhan lembut tepat ditelinga kanan gadis itu yang perlahan mulai tenang dalam dekapannya.

Secara lembut Luhan mengelus punggung Hyerim. Dan gadis itu pun tenang sekarang, namun belum sempat Luhan menghela napas lega, dirasakan olehnya tubuh Hyerim melemas dalam pelukannya. Saat Luhan melonggarkan pelukannya, tubuh Hyerim ambruk dan langsung ia tangkap dengan sigap. Hyerim, gadis itu pingsan sekarang.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu?” ucap Luhan dengan tatapan khawatir menatap wajah Hyerim lalu kembali menarik tubuh gadis itu kedekapannya, sangat erat.

―To Be Continued―

Iklan

6 respons untuk ‘BaekLu With Kim Sisters [Chapter 3]

  1. Si baek ama nara pacarannya panas dingin 😂😂

    Bentar marahan, trus baikan dan sekarang brantem lagi 😂
    Tpi mereka so sweet kok

    Luhan ngambil kesempatan dalam kesempitan.
    Luhan udah mulai sayang dan gak bakalan nyakitin hyerim 😊

    Luhan kenapa tega sma hyerim walaupun gak jadi sih, cuma hyerimnya udah keburu ngelihat 😭

    Sepertinya hyerim punya something gitu deh, semacam troma gitu keh?

    Sumpah penasaran dengan lanjutannya.
    Semngat dek buat next ceritanya, dan Fighting 🙆🙆

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s