[Chapter-2] Persahabatan Bagai Gulali

kai blue

Judul ||  Persahabatan Bagai Gulali

Cast utama ||  Kaiho

Support Cast  ||  ChanSoo, KrisHo, KrisHun

Genre || Romance | Comedy | Absurt

Length || Chapter

Rated ||  G

Disclaimer || I own nothing but the story

Ndak suka, jangan dibaca! gampang toh.

.

.

.

.

 

 

 

Jadilah malam ini Kai mengungsi ke rumah Suho.  Dengan senyum bahagia dia naik vespa kesayangannya menuju tempat yang letaknya tiga block dari rumahnya. Tidak terlalu jauh sebenarnya, tapi kalau ditempuh dengan berjalan kaki, ya cukup memakan waktu juga. Padahal kan niatnya malam ini dia tidak mau buang-buang waktu. Karena waktu sangat berharga. Pepatah jaman dulu mengatakan time is money... meski tidak tahu berapa money yang diperoleh tiap kita menghemat waktu.

 

 

Singkat cerita dia tiba—

 

Ibunya yang membuka pintu.

 

“Suho di kamarnya.” Jawab ibunya  langsung tanpa ini dan itu dari Kai.   Wajah wanita paruh baya itu sedikit sembab, mungkin karena dia habis menangis.

 

“Bibi kenapa?” tanya kai basa basi.

 

Wanita itu mengusap wajahnya.

 

“Ngantuk.” Jawabnya malas.

 

Masa iya ngantuk. Pasti dia habis bertengkar dengan suaminya. Mereka kelihatannya kurang akur belakangan ini.

 

“Bibi Kim, sebaiknya Anda pergi tidur saja. Ini sudah malam.” Usul Kai bijak

 

“Aku menunggu suamiku pulang.”

 

“Memangnya ke mana Paman Kim, Bi?”

 

“Cuma sebentar membeli gorengan di perapatan sana. Katanya Suho pengen gorengan. Kangen sama makanan kampung.”  Jelasnya.

 

Kai mengangguk lagi. Kangen makanan kampung dan cowok kampung ini apa dia kangeni juga.

 

“Kalau begitu saya permisi, mau bertemu Suho dulu.” Sahut Kai.

 

“Ee..eee, sebentar, Nak!”  cegatnya

 

“Ada apa Bi?”

 

“Ibumu sudah mendingan?” pertanyaan mengundang alis Kai  untuk mengekerut satu.  Mendingan apa ya? Memangnya ada apa dengan ibunya. Bola mata laki-laki berhidung artisitc itu berputar bingung.

 

“Ibu saya kenapa ya, kok saya tidak tahu.”

 

Eoh, kamu gak tahu. Ya sudah, ini Cuma persoalan ibu-ibu saja. Kalau kamu ndak tahu ya sudah. Sana !”  wanita itu mengibaskan tangannya.

 

Kok berbau amis ya. Kai masih mikir sambil berlalu. Memangnya ibunya kenapa?

 

Kai mengangguk pada Bibi Kim dan langsung naik ke lantai dua. Sebentar-sebentar dia tersenyum, walau tidak jelas juga kenapa harus tersenyum. Ini mendebarkan.

 

 

 

Tuk Tuk Tuk

 

Dia mengetuk pintunya tiga kali. Suara dari dalam menyuruhnya untuk masuk. Kai sudah memasang wajah senangnya ketika dia memegang handle pintu berteksture kupu-kupu itu. Diperutnya juga ada kupu-kupu sekarang ini.

 

 

“Suho!” Kai menyebut nama temannya itu dengan merdu

 

Suho melambai, rupanya dia masih bicara dengan seseorang di ponselnya. Kai menunggu di dekat pintu untuk memperhatikan aktifitas itu. Suho pasti sedang bicara dengan pacarnya itu. Kris Wu.

 

Huh, bikin suasana batinnya menjadi kisruh saja. Kalau sudah begini,  mau bagaimana. Sudah terlanjur sampai di sini. dia mau berbalik takut disangka tidak setia kawan.

 

Pembicaraan itu masih terlihat lama. Suho sesekali melirik Kai yang sekarang sudah duduk di bangku yang menghadap meja belajarnya dulu waktu sekolah, sekarang sudah penuh dengan berbagai macam tumpukan benda tidak penting yang dia bawa dari kota.

 

Kai tidak berani menyentuhnya. Takut rusak. Maklum barang tidak penting itu ternyata mahal. Heran kenapa dia membeli banyak barang tidak penting itu dan menumpuknya di sini.

 

“Kai!”  namja itu menoleh. Suho sudah selesai bicara dan sepertinya dia menyuruh Kai untuk mendekat.

 

Deg

 

Kai masih mengamati sikap Suho dari posisi duduknya.

 

“Eum, apa kau sudah makan?”  pertanyaan itu pasaran, tapi Kai mengangguk saja. Dia berjalan mendekati sang namja tampan dengan senyum malaikat itu. Segernya…

 

“Kamu kenapa?” Suho merasa curiga dengan wajah semrawut Kai. Banyak yang tidak berubah dari penampilannya, tapi yang jelas Kai terlihat lebih laki-laki. Suho senang melihat postur tegap itu. Apa dia masih belajar menari. batinnya

 

“Tidak apa-apa.” Kai menyahut dan duduk di dekat Suho. Sikap canggung itu mendadak muncul. Kai tidak bisa menahan debaran jantungnya ketika menyimak wajah Suho dari dekat.

 

“Kamu bawa apa?” tunjuk Suho dengan dagunya ke arah tas yang tergeletak di lantai.

 

“Itu pekerjaanku.”

 

“Kamu masih menikmati pekerjaan menjadi guru?”

 

“Tentu saja. Aku senang menjadi guru.”

 

“Kamu belum menikah?”

 

Kai mendengus berat. Bagaimana mau menikah, semua perawan di kota ini merantau semua. Yang tinggal di sini kebanyakan ibu-ibu dan nenek-nenek. Kalaupun ada perempuan, itu juga masih pada tahap pertumbuhan. “ Kai mengusap dadanya sendiri.

 

“Aku nunggu kamu, Ho.” Tangan Kai menepuk paha Suho .

 

“Nunggu aku?”

 

Kai mengangguk dan melirik manis, meniru lirikan Kris waktu di teve beberapa waktu lalu. Suho melebarkan matanya.

 

“Kamu masih punya perasaan itu padaku.” Seru Suho sambil mengusap lengan Kai yang kekar. Tangannya merasa mengusap beton tiang listrik di perapatan jalan. Keras.

 

“Aku masih  nungguin kamu, siapa tahu kamu bisa menerima perasaanku. Kamu kan tahu, aku ga bisa pindah ke lain hati.”  Kai menatap lurus ke manik berkilauan milik Suho.

 

“Aku ga tau harus ngomong apa.”

 

“Aku tahu, kamu sudah sama Kris. Dia memang ganteng dan terkenal. Aku ga ada apa-apanya kalo di banding dia.”

 

“Dia sudah banyak membantuku waktu di Seoul. Selama aku kerja buat dia waktu itu, dia yang memberikan tumpangan hidup buatku, lalu memberi jalan untuk kesuksesanku. “ jelas Suho yakin

 

Pupus sudah harapan Kai untuk mendapatkan hati Suho. Dia merasa sangat sedih sampai tidak bisa mengangkat mukanya, tapi Suho mengusap lagi lengannya. Kai menepisnya,

 

“Jangan marah! Kita kan baru ketemu, apa kamu ga kangen sama aku.”

 

“Kamu sudah ga kayak Suho yang dulu.”

 

“Aku masih Suho yang dulu.”

 

“Kamu berubah.”

 

“Semua orang pasti berubah, Kai. Masa iya ga berubah. Kamu juga meski aku bilang ga banyak berubah, tapi pasti ada yang berubah. Manusia itu tidak statis, teman. Kita akan selalu bergerak dan berkembang.”

 

“Omonganmu kayak profesor.”

 

“Aku banyak belajar dari kehidupan ini. Kamu kan gak tahu gimana beratnya bekerja di dunia hiburan. Persaingannya bikin kita stress dan depresi. Berat, Kai. Aku sampai sempat frustasi dan mau pulang kampung aja waktu itu, tapi syukurlah ada Kris. Karena dia aku bisa jadi seperti ini.”

 

Kris lagi.

 

Kai mendengus sambil berdiri.

 

“Kamu mau kemana?” Suho tidak mau Kai pergi dari sisinya.

 

“Mau kencing. Aku nahan dari tadi.”  Sahut Kai sambil keluar dari kamar.

 

Percuma ngomong sama Suho masalah perasaannya kalau dia masih berat ke sana.  Maksudnya pada laki-laki ganteng itu, Kris Wu.

 

.

.

.

 

“Hop Yak! Hop Yak! 1  2   3  ….!”

Pak Guru Chanyeol sedang memberikan pengarahan di depan murid-muridnya. Dia berloncat dengan menggerakan tangannya terentang kemudian tertutup di samping pahanya. Seperti kupu-kupu terbang tinggi dan menclok di hati Kyungsoo yang menatapnya sembunyi-sembunyi dari balik pohon. Dari matanya bertebaran ‘pink love love metalik’  yang menyilaukan pandangan Kai yang melihatnya.

 

Kyungsoo sedang di serang virus cinta. Dia meringis di sana seperti fanboy yang sedang melihat adegan skinship idolnya.

 

“Kamu lagi ngapain di situ!”

 

“Ngintip Pak Guru Chanyeol yang perkasa luar biasa.”

 

“Hhh!” Kai mendengus. Lalu dia melambai pada Guru olah raga tampan berwibawa itu.

 

Kegiatan mengajar berhenti sebentar karena gurunya sedikit capek. Dia berjalan minggir mendekati Kai dan Kyungsoo di bawah pohon.

 

“Ada apa?” Chanyeol mengusap keringatnya yang mengucur dikeningnya. Tangannya terangkat sehingga menampilkan lembaran-lembaran lembut bulu ketiaknya yang basah.

 

“Kyungsoo mau bicara denganmu, katanya.”  Kai langsung mendorong Kyungsoo untuk maju menghadapi Chanyeol.

 

“Loh, ada apa Soo?”  Chanyeol meneliti tatapan malu Kyungsoo yang dia rasa sangat imut. Belakangan ini Kyungsoo menjadi pendiam kalau ada di dekatnya.

 

“Tidak ada apa-apa, Chan.”

 

“Tidak ada apa-apa gimana?”  Chanyeol mengejar penjelasan

 

“Dia Cuma pengen deket sama kamu.”  Kai menyenggol bahu Kyungsoo sampai namja itu terhuyung ke tubuh Chanyeol.

 

“Agh Kai, kamu ini kenapa menyenggolku.”  Pipi Kyungsoo diserbu semburat merah yang merona, membuat Chanyeol tak berhenti tersenyum

 

“Sudah jangan mengganggunya, Kai. Aku masih harus mengajar. Aku pikir ada berita apa sampai memanggilku.”  Chanyeol berjalan ke tengah lapangan lagi.

 

“Sudah kubilang dia tidak meyukaiku, Kai.” Kyungsoo menekuk wajahnya dan berjalan ke lain arah. Dia sudah merasa putus harapan menghadapi Chanyeol yang selalu bertingkah tidak menyukainya. Mungkin memang dia tidak suka padanya.

 

Kai hanya bisa menghela napas. Dia tidak bisa membantu banyak, karena dia punya masalah sendiri dengan urusan cinta.

 

Mendadak ponsel di saku celananya bergetar. Buru-buru dia merogohnya sebelum terjadi bencana alam. Kai tahu, yang menghubunginya pasti Suho.

 

“Kai kau berada di mana?”

 

“Di sekolah. Aku sedang mengajar.” Jawab Kai sambil berjalan menyusul langkah Kyungsoo memasuki gedung sekolah berlantai dua itu.

 

“Apa aku membuatmu repot?”

 

“Belu. Kau butuh apa?”

 

Suho terkekeh di seberang sana.

 

“Aku hanya ingin ditemani jalan-jalan.” Ujarnya

 

Kai melirik arlojinya sebentar. “Aku pulang jam tiga sore nanti. “

 

“Masih lama.” Terdengar nada kecewa.

 

“Iya. Apa kakimu bisa diajak untuk jalan-jalan?”

 

“Aku bisa memakai tongkat.”

 

“Kalau begitu ya tunggu sampai aku pulang mengajar.”

 

Sepertinya Suho tidak menjawab lagi, malah menutup ponselnya. Tidak apa-apa kalau dia agak marah. Dia memang harus tahu, kalau pekerjaan menjadi guru itu tidak semudah yang dia bayangkan.

 

.

.

.

 

 

“Nak, kau mau ke mana?”

 

“Mau ke rumah Suho, Buk.”

 

“Kamu ga capek?” Ibunya menoleh dari posisi duduknya di depan teve.

 

“Ga Buk.”

 

“Jangan pulang malam-malam, ibu nanti ada tamu. Bantuin ibu!”

 

“Ya, Buk.”

 

Kai memang anak yatim. Ayahnya sudah meninggal waktu dia duduk di kelas 5 SD. Penyakit paru-paru turunan diagnosanya. Ayahnya itu bekerja sebagai sopir bus malam antar kota. Karena pekerjaannya itulah, dia menjadi lebih kronis. Kai sudah biasa hidup bersama dengan ibunya dan berniat tidak mau pergi dari sisi ibunya, mengingat sang ibu kini selalu bergantung padanya.

 

Rumah Suho kelihatan sepi.

 

Kai melongok lewat kaca yang tidak tertutup gorden. Di dalam memang sepi, tapi Suho kan tadi bilang ingin diantar jalan-jalan.

 

Kai mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Suho. Suara ponselnya itu menyala di dalam, tapi—

 

“Su~u~ho!” panggilnya lagi sambil melagukannya

 

Perasaannya kok tidak enak. Kai membuka handle pintunya, kemudian berjalan masuk. Dia melihat ada tongkat Suho yang tergeletak di lantai juga ponselnya. Lalu—

 

 

“SUHOOOO!”  Kai langsung mendekati tubuh yang tergeletak di lantai itu dengan cepat. Suho tidak sadarkan diri di sana, di dekat tangga. Apa dia berniat untuk menuruni tangga dan terjatuh di sini.

 

GAWAT

 

Kai segera menghubungi rumah sakit terdekat.

 

Sembari menunggu kedatangan ambulance atau semacamnya, Kai memeriksa denyut kehidupan manusia tampan yang sangat dicintainya ini. Jantungnya berdegup kencang. Loh, ini denyut jantungnya atau denyut jantung Suho. Kai menggeleng sebentar. Dia tidak berbakat untuk melakukan pertolongan pertama, kedua atau ke tiga sekalipun.

 

“Suho, jangan mati!”

 

Suho membuka matanya, dan melirik lemah ke arah Kai.

 

“Tidak bodoh! Aku tidak mau mati.”

 

“Syukurlah kamu masih hidup.” Kai mengusap kepala Suho.

 

“Aku jatuh.” Dengan nafas tersendat-sendat.

 

“Jangan bergerak! Aku khawatir ada bagian lain dari tubuhmu yang patah.”  Kai masih terlihat cemas

 

“Ya, hatiku.”  Sahut Suho lemah

 

Kai merasa bingung sendiri. Memangnya ada apa? Kenapa Suho mendadak dramatis begini. Kai mendengar sirine ambulance mendekat.

 

“Kita bicaranya nanti saja ya, kalau kamu sudah ditangani medis.”

 

Suho mengedipkan mata tanda setuju.

 

 

 

Ambulance datang dan membawa Suho ke rumah sakit. Sial sekali nasibnya si Suho ini, akhirnya dia harus tergeletak juga di Rumah Sakit Umum Daerah [RSUD], Kota Kecil Indah Sekali ini [KKIS].

 

 

.

.

.

 

Suho mengalami keseleyo di pinggulnya. Menurut dokter dia tidak mengalami cidera berat, hanya saja bagian kakinya yang di gip harus dilakukan pengulangan, karena balutan semen putih itu retak karena Suho terjatuh di tangga.

 

Kai selalu menemaninya ketika dia pulang mengajar, tapi emosi Suho sedang tidak bersahabat. Dia cenderung labil. Terkadang dia terlihat kesal, lalu sedih dan tertawa tanpa sebab. Kai merasa curiga dengan kondisi kejiwaan manusia tampan ini.

 

Seperti sore ini, Suho mendadak mematikan teve ketika Kai masuk ruangan perawatannya. Dia sudah bisa duduk dengan nyaman, dan menatap kedatangannya dengan tersenyum, tapi kabut di dalam matanya itu tidak bisa di sembunyikan.

 

“Kamu kenapa?”  Kai meletakkan tas kerjanya di meja kemudian mendekati Suho.

 

“Tidak ada apa-apa. Aku ingin ke kamar mandi dulu.”

 

Dengan sedikit susah payah, akhirnya Suho berhasil mengunci diri di dalam bilik toilet. Kai menyalakan teve untuk mendapatkan berita terkini.  Pandagannya sebentar terhenyak dengan penampakan Kris Wu yang sedang melakukan acara reality show bersama seorang namja tampan berkulit ivory. Dia sangat indah.  Lak-laki itu benar-benar perpaduan antara malaikat dan bangsa peri. Kai pun merasa terpincut pada visualisasi manusia tampan di dalam layar teve tersebut.

 

Tapi—

 

Kai menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tertutup itu, di mana Suho sekarang sedang mengunci diri di dalam sana.

 

Apakah Suho sedang patah hati. Dia melihat Kris Wu bersama dengan laki-laki itu dan terlihat begitu mesra dan bahagia. Tapi itu hanya acara untuk meraih rating terbaik, kan. Bukan sungguhan. Hanya sandiwara saja sama seperti pertunjukan lainnya yang mengobral manipulasi.

 

Cklek

 

“Matikan tevenya!”  bentak Suho cepat.

 

“Kenapa?” jawab Kai tenang. “ Aku masih mau nonton. Acaranya seru.” Kai sengaja menyembunyikan remote tevenya di dalam saku celananya. Suho terlihat gusar dan berjalan cepat ke arahnya.

 

“Matikan tevenya!” ulangnya lagi.

 

Kai meyeimbangkan posisinya dengan Suho tapi kemudian berjalan menjauh. Dia masih enggan mematikan teve itu dan menatap Suho dengan wajah pias.

 

“Apa karena dia dekat dengan model muda itu?”

 

Suho berpaling dan duduk di ranjangnya lagi, tidak menjawab pertanyaan Kai.

 

“Kenapa kamu ga jawab pertanyaanku?”

 

Agak lama sampai dia merasa puas dengan sikap diamnya.

 

“Kris pernah bilang kalau dia tidak mudah melupakan seseorang.”

 

“Siapa?” tanya Kai dengan gamang. Suho ini sedang membicarakan masalahnya dengan Kris, tanpa memperhitungan perasaannya.

 

Suho melihat ke arah teve lagi. Apakah itu sebuah petunjuk.

 

“Dulu mereka pernah menjalin hubungan, tapi kemudian berpisah. Sekarang mereka bertemu lagi, di saat aku sedang sakit seperti ini. Apa kau tidak merasakan kalau hatiku sakit, Kai.”

 

Kai memegang dadanya. Demi Tuhan, dia merasakan rasa sakit ini. Oh Tuhan, sungguh teganya Suho mengatakan kalimat seperti itu. Apa selama ini dia tidak merasa kalau dia menyakiti perasaannya sehebat ini.

 

“Suho, aku bisa merasakan perasaan seperti itu. Aku bersumpah, aku juga merasakannya.”

 

Suho membalas tatapan dari pekatnya iris Kai yang sedang menghadapinya. Tubuh itu begitu tegap namun tampak lelah. Bukan fisiknya melainkan batinnya. Perlahan Kai mengambil remote itu dari saku celananya dan menyerahkannya lagi pada Suho.

 

“Ini, kamu ganti saja sendiri acara tevenya, atau malah kamu banting sekalian juga aku ga perduli. Aku mau pulang dulu. Ibuku kurang enak badan. Semalam dia masuk angin, aku ga bisa ngerokin soalnya aku nginep di sini nemenin kamu terus. Kamu kan sudah bisa ke kamar mandi sendiri, makan sendiri jadinya aku sedikit lega. Besok pagi aku ke sini lagi, kalo  kamu memang masih butuh. Kalo ga butuh ya sudah.”  Kai berjalan keluar, dan Suho memandangi punggung itu berlalu dengan rasa menyesal. Apa yang telah dilakukannya pada Kai.

 

.

.

.

 

Chanyeol duduk di kantin sekolah untuk sarapan, dia tidak sempat sarapan karena tabung gas di rumahnya habis.  Tidak punya waktu untuk beli, warung terdekat cukup jauh.

 

“Nasi  gorengnya pake telor ceplok atau telor dadar, Pak Chanyeol?” Chen menunggu jawaban dengan harap-harap cemas sambil memegang telornya.

 

“Pake telor ceplok aja.”  Jawab guru bertubuh jangkung itu sambil mengacungkan jempolnya yang besar dan panjang.

 

“Saya mau mie rebus saja.”  Chanyeol menoleh ke arah suara, dan mendapati Kyungsoo duduk di sebelahnya. Buru – buru dia menelan gorengan bakwannya dan tersenyum pada Kyungsoo dengan bibir berminyak. Kyungsoo meliriknya dengan senyum cerah, tak kalah cerahnya dengan sinar matahari yang sedang bersinar diufuk Timur.

 

Dia membungkuk

 

“Pagi !” sapa Chanyeol ramah

 

Kyungsoo mengangguk

 

“Pagi juga!”  sapanya balik. Lalu mereka diam sebentar.

 

Terdengar Chen sedang sibuk berperang dengan penggorengannya di dapur kantin. Suaranya benar-benar gaduh sampai Kyungsoo dan Chanyeol sedikit khawatir, apakah Chen baik-baik saja di sana.

 

“Wooaaah, akhirnya!” Chen keluar dari dapur sambil membawa satu piring nasi goreng dengan lauk telor ceplok plus kerupuk udang.

 

“Kenapa telor ceploknya gosong?” protes Chanyeol cepat

 

“Nganu, tadi aku kelupaan, Pak Chanyeol. Aku sambil ngaduk nasi goreng, trus telat ngecilin api kompornya.”

 

“Masa pelanggan diperlakukan begini, sih!” protesnya galak.

 

“Nanti saya diskon, Pak. Tenang saja!”  Chen menjual senyumnya juga supaya guru galak ini tidak marah di kantinnya. Maklum kalau dia marah, isi kantinnya ini ludes olehnya.

 

Kyungsoo melirik telor ceplok Chanyeol yang gosong pinggirannya.

 

“Sini saya rapikan telornya Pak!”

 

Chanyeol terhenyak. Kyungsoo mau merapikan telornya. Gimana caranya cobak.

 

.

.

.

 

Bersambung.

Iklan

3 thoughts on “[Chapter-2] Persahabatan Bagai Gulali

  1. …meski tidak tahu berapa money yang diperoleh tiap kita menghemat waktu.
    Betul tuh! sehemat-hematnya gw gatau berapa banyak diperoleh :v
    Btw, Kyungsoo, keren banget ya mau ngerapiin telor gosong milik Park Yoda itu😂😂😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s